INFO ONLINE
AGENDA KEGIATAN
Model Pembelajaran

Model Pembelajaran StudentCentered Learning (SCL) 

Student Centered Learning (SCL)adalah model pebelajaran yang direkomendasikan dalam penerapan KurikulumBerbasis Kompetensi (KBK). Model ini dinilai sesuai dengan maksud KBK. Artinya,sebagai Fakultas yang berkomitmen membangun kompetensi dalam sistempendidikannya, maka penggunaan model SCL dalam proses pembelajaran di FakultasSyariah adalah sebuah keniscayaan. Oleh karena itu, civitas akademika FakultasSyariah perlu memiliki sebuah kerangka acuan yang sama tentang SCL.

Pada dasarnya, metode-metode yang diperkenalkan dalam model SCL tidaklahseluruhnya baru sama sekali. Sebagian metode-metode ini telah diterapkansebelumnya. Bahkan, istilah SCL sendiri pun kadang masih diperdebatkan olehpara ahli pendidikan, dimana sebagiannya lebih memilih mengganti dengan istilahlain seperti Active Learning dan sebagainya.

Student CenteredLearning (yang juga disebut ChildCentered Learning) adalah sebuah pendekatan pendidikan yang menitikberatkanpada kebutuhan pelajar, bukan pada unsur lain dalam proses pendidikan, sepertiguru dan tenaga administrative. Pendekatan ini memiliki banyak implikasi terhadapdesain kurikulum, muatan belajar, dan proses belajar yang interaktif. TeacherCentered Learning menempatkan guru sebagai pusat dengan peran yang aktif,sedangkan pelajar bersifat pasif dan berperan sebagai penerima. StudentCentered Learning menghendaki pelajar menjadi aktif, dan menjadi peserta yangbertanggung jawab terhadap pembelajaran mereka sendiri.[1]

Model SCLmenggunakan dua perspektif fokus pembelajaran, yaitu fokus pada individupembelajar (keturunan, pengalaman, perspektif, latar belakang, bakat, minat,kapasitas, dan kebutuhan) serta fokus pada proses pembelajaran (pengetahuanyang paling baik tentang pembelajaran dan bagaimana hal itu timbul sertatentang praktek pengajaran yang paling efektif dalam meningkatkan tingkatmotivasi, pembelajaran, dan prestasi bagi semua pembelajar). Dalam prosespembelajaran yang berpusat pada pelajar, maka pelajar memperoleh kesempatan danfasilitasi untuk membangun sendiri pengetahuannya sehingga mereka akanmemperoleh pemahaman yang mendalam (deep learning), dan pada akhirnya dapatmeningkatkan mutu kualitas siswa.[2]

Sesuai dengan semangat KBK, model SCL mendesain sebuah proses pembelajaranyang menyentuh seluruh aspek kecerdasan pelajar yaitu kognitif, afektif danpsikomotorik. KoordinatorPHKI Departemen Manajemen FEM-IPB mengatakan: “……Lebih dari itu kewajibanpendidikan dituntut untuk juga memasukan nilai-nilai moral, budi pekerti luhur,kreativitas, kemandirian dan kepemimpinan yang sangat sulit dilakukan dalamsistem pembelajaran yang konvensional”.[3]

Ringkasnya, Kurikulum Berbasis Kompetensi dengan model pembelajaran Student Centered Learning (SCL),mengarahkan pada sebuah kegiatan pembelajaran yang mampu mengembangkan potensipelajar secara aktif untuk kemudian mencapai kompetensi belajar yang telahdirencanakan dengan landasan moral serta kecakapan manajemen. Untuk itu,kegiatan pembelajaran didesain agar dinamis, menyenangkan dan memberdayakan.

Penerapanmodel SCL merubah paradigma pendidik (guru/dosen) sebagai “pengajar”, menjadi“fasilitator” yang mendampingi dan memasilitasi proses pembelajaran pelajar.Sebagai fasilitator, tugas dosen adalah membuat desain pembelajaran yang dapatmewujudkan kompetensi mahasiswa serta membimbing bagaimana cara mencapaimelaksanakan pembelajaran untuk mencapai kompetensi tersebut. Itupun dengancatatan, proses desain pembelajaran ini sedapatnya menyertakan peran mahasiswa.Sepintas, tugas dosen menjadi lebih sederhana. Namun, sebenarnya tidakdemikian. Dengan posisi sebagai fasilitator tersebut, dosen tidak hanyadituntut menguasai materi perkuliahan, tapi juga dituntut mampu menyusunmuatan-muatan suatu mata kuliah menjadi poin-poin kompetensi kognitif, afektifdan psikomotorik yang berhubungan dengan dunia kerja; memiliki pengetahuantentang psikologi pendidikan dan psikologi perkembangan; memiliki skill dankreatifitas metode pembelajaran; serta menguasai teknologi informatika.Perubahan paradigma tersebut tentunya tidaklah mudah. Namun, inilah tantanganyang harus dijawab oleh para dosen.

Lebihdari itu, karena konsep pendidikan KBK menganut integralitas aspek kognitif,afektif dan psikomotorik, maka dosen dituntut benar-benar mampu memberikanteladan (uswah) bagi mahasiswa. Sebagai uswah, dosen adalah nilai-nilai danetika yang hidup di tengah mahasiswa. Dosen juga merupakan motivator utama bagimahasiswa. Jika kita bercermin dari kisah hidup Rasulullah SAW, konsep inibukanlah hal yang baru. Keberhasilan Rasulullah SAW mendidik generasi terbaikumat Islam tidak terlepas dari keteladanan paripurna yang beliau tunjukkan.  Bahkan, dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwaketika ditanya tentang akhlak Rasulullah SAW, Aisyah menjawab bahwa akhlakbeliau adalah Al-Qur’an.

Darisegi fokus pada peserta didik, setidaknya ada lima faktor yang pentingdiperhatikan dalam prinsip psikologis pembelajaran SCL, yaitu:

  1. Faktor Kognitif yang menggambarkan bagaimana siswa berpikir dan mengingat, serta penggambaran faktor-faktor yang terlibat dalam proses pembentukan makna informasi dan pengalaman;
  2. Faktor Afektif yang menggambarakan bagaimana keyakinan, emosi, dan motivasi mempengaruhi cara seseorang menerima situasi pembelajaran, seberapa banyak orang belajar, dan usaha yang mereka lakukan untuk mengikuti pembelajaran. Kondisi emosi seseorang, keyakinannya tentang kompetensi pribadinya, harapannya terhadap kesuksesan, minat pribadi, dan tujuan belajar, semua itu mempengaruhi bagaimana motivasi siswa untuk belajar;
  3. Faktor Perkembangan yang menggambarkan bahwa kondisi fisik, intelektual, emosional, dan sosial dipengaruhi oleh factor genetik yang unik dan faktor lingkungan;
  4. Faktor Sosial yang menggambarkan bagaimana orang lain berperan dalam proses pembelajaran dan cara-cara orang belajar dalam kelompok. Prinsip ini mencerminkan bahwa dalam interaksi sosial, orang akan saling belajar dan dapat saling menolong melalui saling berbagi perspektif individual;
  5. Faktor Perbedaan yang menggambarkan bagaimana latar belakang individu yang unik dan kapasitas masing-masing berpengaruh dalam pembelajaran. Prinsip ini membantu menjelaskan mengapa individu mempelajari sesuatu yang berbeda, waktu yang berbeda, dan dengan cara-cara yang berbeda pula.[4]

Berikut ini beberapa metode atau teknik pembelajaran yang disarankan dalammetode SCL:

  1. Small Group Discussion
  2. Role-Play & Simulation
  3. Case Study
  4. Discovery Learning (DL)
  5. Self-Directed Learning (SDL)
  6. Cooperative Learning (CL)
  7. Collaborative Learning (CbL)
  8. Contextual Instruction (CI)
  9. Project Based Learning (PjBL)
  10. Problem Based Learning and Inquiry (PBL)

Sebagaimana telahdisebutkan di atas, tidak semua dari metode-metode tersebut merupakan hal yangbaru. Beberapa diantaranya sudah lebih lama dikenal dan dipraktekkn dalamproses belajar. Misalnya saja istilah PBL, yang sebelumnya dalam arti yanghampir sama telah dikenal dengan studi kasus; CL dan CbL yang hamper samadengan diskusi kelompok; dan sebagainya.

Namun demikian,meskipun sebagian metode-metode tersebut telah lebih lama dikenal dandipraktekkan, hal yang paling mendasar dari metode SCL adalah perubahanparadigma guru/dosen sebagai “pengajar” menjadi “fasilitator”, dimana yangpertama menjadikan guru/dosen sebagai pusat kegiatan belajar, sedangkan yangkedua menjadikan peserta didik sebagai pusat pembelajaran. Perubahan paradigmaini kemudian menuntut adanya penguasaan pada aspek-aspek psikologis pelajarserta metode-metode pembelajaran yang mampu mengembangkan dan memberdayakanpotensi dan karakter pelajar.

Meskipun telah adasejumlah alternatif metode atau teknik pembelajaran model SCL, dalam prakteknyatidaklah sesederhana memilih salah satu yang akan dipakai. Pemilihan metodeharuslah didasari pada kebutuhan kondisi mahasiswa, disamping kesesuaian denganpokok bahasan. Oleh karena itu, penerapan SCL juga membutuhkan keterampilanpengkondisian proses pembelajaran, serta dukungan media-media dan berbagaisarana pendukung pembelajaran.

Bagaimana menerapkan model pembelajaran SCL ini di kelas juga tidak hanyamenjadi tanggung jawab dosen, melainkan kerja sama antara dosen, mahasiswaserta dukungan pengelola Fakultas. Oleh karena itu, pengetahuan danketerampilan terkait SCL juga perlu dimiki oleh mahasiswa, meskipun tentudengan kadar yang berbeda dengan dosen. Beberapa contoh yang penting untuksama-sama dipahami oleh dosen dan mahasiswa adalah hasil-hasil kajiankontemporer tentang otak dan gaya belajar. Kajian-kajian tersebutmerekomendasikan proses pembelajaran memperhatikan keberagaman gaya belajarpeserta didik serta pentingnya mendesain proses pembelajaran yang mengaktifkanotak kiri dan otak kanan.

Masing-masing belahan otak memiliki fungsi yang berbeda, namun kekuatanotak kanan untuk menyimpan memori jauh lebih besar. Sayangnya, secara umumproses pembelajaran di institusi pendidikan di Indonesia selama ini lebihdidominasi otak kiri. Dalam konteksinilah, pembelajaran perlu didukung oleh sarana-sarana audio visual, kegiatanpembelajaran yang variatif dan program-program studi lapangan. Fungsimasing-masing belahan otak tersebut dapat dilihat dalam gambar berikut:

 

 

Fungsi Otak Kiridan Kanan

 

OTAK KIRI

            BERPIKIR

            LOGIS

            RASIONAL

            SEKUENSIAL

            LINEAR

            TERPERINCI

            BAHASA

            MENULIS

            MEMBACA

            MATEMATIKA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Secara umum, dikenal tiga jenis gaya belajar, atau dengan istilah laindisebut modalitas belajar yaitu visual, auditorial, dan kinestetik. Orangdengan modalitas visual lebih dominan menggunakan indera penglihatan ,mengakses secara visual dalam belajar. Orang dengan modalitas auditorialdominan menggunakan indera pendengar, mengakses bunyi dan kata dalam belajar.Sedangkan orang dengan modalitas kinestetik mengakses segala jenis gerak danemosi sehingga penting sekali bagi orang tipe untuk menyentuh emosinya sertaadanya atraksi atau simulasi langsung dalam belajar. Ketiga modalitas inilahyang harus dikenali dan dipetakan oleh Dosen bersama mahasiswa dalam mengelola kelas, sehingga desain pembelajaranmemperhatikan modalitas mahasiswa di kelas.

Dukunganmedia-media pembelajaran terutama peralatan audio visual akan sangat menunjangmodel pembelajaran SCL. Adanya gambar-gambar, ilustrasi film dan musik memberiefek belajar yang lebih baik karena menciptakan kondisi emosional dan gelombangotak yang siap untuk proses pembelajaran serta merangsang kerja otak kanan.Disamping itu juga dibutuhkan adanya simulasi-simulasi dan alat peraga,terutama jika banyak mahasiswa yang memiliki modalitas belajar kinestetik.Suasana fisik ruangan juga memberikan kontribusi penting, misalnya aroma harum,suplay oksigen yang memadai dan lainnya.

Apa yang diuraikandalam sub bab ini tentunya masih sangat jauh dari memadai guna mengaplikasikanmetode SCL di Fakultas Syariah . Untuk itu, beberapa catatan referensi penting perlu kamicantumkan sebagai berikut:

Ø      Quantum Learning dan QuantumTeaching (Bobbi DePorter, dkk)

Ø      Mind Mapping (Toni Buzan)

Ø      Psikologi Umum (Alex Sobur), ataubuku-buku psikologi lainnya

Ø      Menjadi Guru yang Mau & MampuMengajar dengan Pendekatan Kontekstual (Hernowo)

Ø      Quantum Ikhlas (Erbe Sentanu)

Ø      The Champion(Darmedi Darmawangsa)

Ø     Dll

 



[1]  www.en.wikipedia.com, diakses tanggal 8 Februari 2010.

[2] Yanti D.P., “Student Centered Learning”, www.bintangbangsaku.com,diakses tanggal 8 Februari 2010.

[3]  Ma'munSarma, “Menggenjot Potensi Mahasiswa Melalui Student CenteredLearning”, www.fkh.ipb.ac.id, diakses tanggal 8Februari 2010.

[4] Yanti D.P., “StudentCentered Learning”, www.bintangbangsaku.com, diakses tanggal 8Februari 2010.

 

Download File :
CopyRight Aska Multimedia
Content Management System 2009
Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri Jambi - Indonesia
Jl. Jambi - Ma.Bulian Km.16 Muaro JAMBI
Telp.(0741) -
Fax (0741) -
email : [email protected]